Monday, 21 September 2026

Aku wis raiso ngalah, aku ngalih

"Aku udah ngalah berulang kali. Aku nggak bisa ngalah lagi, aku ngalih. Aku ngalih dikejar terus, akhirnya apa? Aku ngamuk."

Kalimat itu muncul di percakapan malam ini setelah malam-malam yang rasanya terlalu panjang. Aku sedang bicara dengan Mas Rius, mencoba membongkar lagi apa yang sebenarnya terjadi, padahal aku sendiri sudah capek mendengar suaraku mengulang cerita yang sama. Aku sudah berkali-kali mencoba menjauh. Bukan untuk menghukum siapa-siapa. Bukan karena aku tidak sayang. Aku cuma sudah sampai di titik di mana berada terlalu dekat membuat kami saling melukai, dan satu-satunya hal yang masih bisa kupikirkan adalah pergi sedikit lebih jauh sebelum semuanya rusak lebih parah.

Tapi bahkan pergi pun ternyata tidak cukup. Aku ngalih, dikejar. Aku diam, dicari. Aku membuat jarak, ditarik kembali ke dalam percakapan yang tidak pernah benar-benar selesai. Ada semacam keyakinan bahwa karena ini keluarga, aku harus selalu tersedia untuk menjelaskan diriku sendiri. Harus bicara, harus memahami, harus kembali. Harus membuka pintu yang sebenarnya sedang kututup karena di balik pintu itu aku sudah terlalu lama merasa tidak aman. Dan pada satu titik, tubuhku cuma tahu satu bahasa lagi: marah. Aku ngamuk. Mungkin aku salah. Aku bisa mengakui itu. Mungkin caraku menyampaikan sesuatu buruk, mungkin suaraku meninggi, mungkin ada kata-kata yang seharusnya tidak keluar. Aku tidak mau lari dari bagian itu. Kalau aku menyakiti orang, aku bisa meminta maaf. Tapi ada sesuatu yang sangat melelahkan dari perasaan bahwa sekali aku salah, seluruh konteks hidupku seperti ikut dihapus. Seolah-olah karena aku marah, maka semua yang terjadi sebelumnya tidak penting. Seolah-olah orang yang marah pasti orang yang paling bersalah. Seolah-olah sekali membuat kesalahan, aku sepenuhnya orang yang buruk, dan aku harus menjadi manusia yang sempurna dulu baru berhak membuat batas.

Aku nggak sempurna. Aku pernah salah. Aku mungkin akan salah lagi. Tapi aku meyakini bahwa aku bukan tipe orang yang pernah sekalipun secara sengaja ingin menyakiti atau melukai orang lain. Tidak deliberately, tidak intentionally. Bahkan ketika aku melakukan sesuatu yang salah, harus ada reasoning yang benar-benar layak diperjuangkan di kepalaku. Bisa jadi reasoning-ku keliru, tentu saja. Tapi aku tidak melakukan semuanya dari ruang kosong. Dan membuat kesalahan tidak berarti aku jatuh lalu harus naik dengan menginjak orang lain. Aku bisa salah tanpa harus menjadi jahat. Aku bisa meminta maaf tanpa harus membenci diriku sendiri. Aku bisa mengakui bahwa caraku salah tanpa menerima kesimpulan bahwa karena itu aku tidak pantas didengar. Entah kenapa, memberiku ruang untuk menjadi manusia terasa seperti kemewahan yang selama ini sangat sedikit kuberikan kepada diriku sendiri. Jangankan dibela, dipahami saja rasanya aku sudah sangat bersyukur.

Yang paling menyakitkan justru ketika aku menyadari bahwa di keluargaku, dua hal yang bertentangan seperti tidak boleh hidup bersamaan. Aku bisa sayang dan marah. Aku bisa berterima kasih dan terluka. Aku bisa tahu seseorang sudah melakukan banyak hal baik untukku dan tetap tidak sanggup berada dekat dengannya sekarang. Aku bisa mengakui kesalahanku tanpa mengambil semua kesalahan yang dilemparkan kepadaku. Aku bisa menghormati seseorang tanpa menyerahkan hidupku kepadanya. Rupanya manusia di keluargaku sering harus dipaksa masuk ke salah satu sisi: kalau sayang, berarti harus dekat; kalau menjauh, berarti tidak sayang. Kalau meminta maaf, berarti harus menurut. Kalau punya batas, berarti egois. Tidak ada ruang untuk sesuatu yang lebih rumit. Padahal hidupku sendiri sudah terlanjur rumit.

Aku sayang keluarga ibuku. Ini mungkin bagian yang paling sulit kutulis karena kemarahan membuat semuanya terlihat hitam-putih, padahal tidak pernah begitu. Dua puluh tujuh tahun hidupku dibesarkan oleh keluarga ibuku. Ada bagian yang sangat besar dari aku, Inez, hari ini yang terbentuk dari sana. Cara berpikirku, cara bicara, cara melihat dunia, bahkan mungkin banyak bagian dari diriku yang sekarang sedang berusaha kubongkar, semuanya punya sejarah. Aku tidak bisa menghapus itu hanya karena aku terluka, dan aku tidak mau. Aku masih ingin mereka ada di hidupku. Tapi aku juga tidak mau menghabiskan sisa hidupku dengan keyakinan bahwa karena seseorang membesarkanku, maka aku harus memberikan akses tanpa batas kepada orang itu. Aku tidak mau cinta berubah menjadi utang yang tidak pernah lunas. Aku tidak mau rasa terima kasih menjadi alasan untuk terus berada di tempat yang membuatku sakit.

Mungkin ini yang tidak banyak orang mengerti tentang rekonsiliasi. Kadang orang bertanya, “Kenapa nggak berdamai saja?” Seolah-olah berdamai adalah keputusan sederhana yang tinggal diambil oleh satu orang. Tapi bagaimana kalau orang yang terluka belum siap? Bagaimana kalau setiap kali mendekat, luka itu terbuka lagi? Bagaimana kalau yang satu ingin kembali seperti dulu, sementara yang lain justru sedang berusaha memastikan dirinya tidak kembali menjadi dirinya yang dulu? Aku tidak tahu apakah aku akan reconcile dengan keluarga ibuku maupun bapakku. Aku bahkan tidak tahu apakah aku ingin sekarang. Aku rasa aku tidak harus tahu. Aku tidak harus memaafkan sekarang. Mungkin aku bahkan tidak harus memaafkan sama sekali. Aku tidak ingin dipaksa berdamai hanya supaya orang lain bisa merasa keluargaku kembali “baik-baik saja”.

Aku mulai berpikir bahwa mungkin berbuat baik kepada orang tua tidak sama dengan patuh kepada orang tua. Aku bisa berbuat baik dengan cara yang berbeda dari yang mereka inginkan. Aku bisa menjaga tanpa mendekat. Aku bisa menghormati tanpa menurut. Aku bisa membuat garis justru karena aku masih peduli. Kalau aku tahu kelekatan atau bahkan sekadar bersinggungan akan membuat kami saling menyakiti, mungkin bentuk kasih sayang yang paling masuk akal adalah berhenti bersinggungan. Bukan selamanya dan bukan sebagai hukuman. Cuma cukup jauh supaya kami tidak terus saling menggores luka yang sama.

Dan aku tahu, dari luar, itu bisa terlihat seperti aku yang pergi. Aku yang dingin. Aku yang berubah. Aku yang menjadi sulit. Mungkin memang begitu. Aku sedang berubah. Dulu aku pikir fight atau berjuang adalah satu-satunya cara supaya tidak kalah. Kalau dikontrol, aku melawan. Kalau disakiti, aku membalas. Kalau ada sesuatu yang terasa tidak adil, aku harus memperbaikinya saat itu juga. Aku bertahan karena aku masih punya harapan. Sekarang aku lebih sering ingin pergi. Kadang aku bahkan merasa bersalah karena ingin pergi. Ada suara di kepala yang mengatakan bahwa pergi itu pengecut, bahwa orang yang dewasa harus menghadapi masalahnya. Tapi aku mulai curiga bahwa mungkin tidak semua pintu harus didobrak. Mungkin ada beberapa pintu yang memang perlu kututup.

Aku juga tidak mau membohongi diriku sendiri tentang dendam. Ada dendam. Tentu ada. Aku manusia. Kalau seseorang berkali-kali menyakitiku, aku tidak otomatis menjadi suci dengan membuka kembali hubungan dekat hanya karena mereka keluarga. Masuk dalam khazanah agama, mungkin orang malah bisa menyebutnya sumber penyakit hati. Mungkin memang begitu. Aku tidak bisa memaksa hatiku untuk menjadi bersih hanya karena itu terdengar lebih baik. Aku marah kepada orang yang menyakitiku. Ada bagian dalam diriku yang ingin mereka mengerti bagaimana rasanya menjadi aku. Ada bagian yang ingin sekali mereka berhenti membalikkan cerita sampai aku menjadi penjahat di dalamnya. Aku tidak bangga dengan semua itu. Tapi aku juga tidak akan berpura-pura tidak merasakannya. Barangkali yang bisa kulakukan sekarang bukan memaksa diriku tidak punya dendam, melainkan memastikan dendam itu tidak menentukan seluruh hidupku.

Rakyat yang dijajah tidak akan merdeka jika mereka tidak memiliki rasa sakit hati yang menjadi bahan bakar perlawanan mereka.

Aku teringat bagaimana mudahnya dunia meminta orang yang terluka untuk menjadi pihak yang lebih besar. Jadilah yang mengerti. Jadilah yang memaafkan. Jadilah yang mengalah. Jangan memperpanjang masalah. Bagaimanapun mereka orang tua. Bagaimanapun keluarga. Merefleksikan ke dalam diriku, aku yakin aku sudah cukup melakukan itu. Terlalu sering mungkin. Sampai aku tidak tahu lagi apakah aku sedang menjadi orang baik atau cuma takut sekali dianggap sebagai orang jahat. Padahal fakta yang semua orang tahu adalah, tidak ada orang yang sepenuhnya benar dan tidak pernah mengecewakan orang lain.

Aku mungkin akan menjadi tokoh antagonis di cerita ini. Setidaknya jadi villain di chapter yang ini. Dan anehnya, mungkin aku mulai bisa menerima itu. Aku tahu aku sedang menantang sesuatu. Society. Status quo. Norma. Cara lama keluarga memandang siapa yang boleh menentukan hidup siapa. Anak seharusnya patuh. Orang tua seharusnya didengar. Keluarga seharusnya dekat. Kalau ada konflik, anak yang lebih muda yang seharusnya mengalah. Aku tahu betapa kerasnya norma itu. Aku hidup di dalamnya. Aku sangat tahu alasan kenapa tidak banyak orang yang membelaku. Jauh lebih mudah membela keluarga yang sedang marah kepada anak daripada membela anak yang berkata tidak mau lagi diperlakukan seperti ini.

Mungkin, karena itulah aku sering merasa sendirian. Bahkan Mas Rius tidak selalu setuju denganku. Dan justru itu yang membuatku merasa dihargai. Dia tidak harus punya pendapat yang sama untuk tetap mendukungku. Kami bisa berseberangan. Dia bisa bilang, menurutnya aku salah. Aku bisa tetap tidak mengikuti sarannya. Kami tetap berhubungan baik, dan saling merasakan cinta dan kasih sayang satu sama lain. Dan anehnya, hubungan seperti ini terasa jauh lebih manusiawi bagiku daripada hubungan yang menganggap perbedaan pendapat sebagai ketidakpatuhan, tanda tidak cinta, tanda minim adab, atau bahkan rasa benci. Aku menghargai pendapatnya bukan dengan menurutinya. Aku mendengarkannya, mempertimbangkannya, lalu tetap menjadi orang yang mengambil keputusan atas hidupku sendiri. Mungkin begitulah seharusnya penghormatan itu. Ia harus tetap objektif, tidak buta.

Aku ingin menjadi manusia yang berdaulat sepenuhnya. Bukan manusia yang tidak membutuhkan siapa-siapa. Aku masih membutuhkan orang. Aku masih butuh didengarkan. Kadang aku cuma butuh Mas Rius, Amira, Adilah, Hassya mendengarkan kekacauan di kepalaku dan menimpali satu-dua kalimat. Itu saja sudah cukup. Aku tidak selalu membutuhkan seseorang untuk menyelesaikan masalahku. Aku cuma butuh satu tempat di mana aku tidak harus mengecilkan ceritaku supaya orang lain nyaman mendengarnya. Mengerti bahwa perasaanku dianggap valid dan sepenuhnya wajar, membuatku merasa tidak se-alien itu.

Aku mungkin memang disruptif. Mungkin aku memang sedang going against the norm. Mungkin aku terlalu keras, terlalu banyak berpikir, terlalu sulit disuruh diam dan sulit dibungkam. Mungkin. Tapi aku tidak ingin lagi mengukur benar-salahnya hidupku berdasarkan seberapa nyaman orang lain terhadap keberadaanku. Aku sudah terlalu lama takut menjadi anak yang mengecewakan. Sekarang aku lebih takut menjadi perempuan dewasa yang hidupnya habis hanya karena sepanjang hidupnya berusaha tidak mengecewakan orang lain. Toh, dianggap dan dikatai "angkuh" "tidak punya adab" "tidak tahu cara membawa diri" "aneh" dan "nyeleneh" bukan hal baru buatku. Seumur-umur, aku menelan cercaan semacam itu dari keluargaku. Dan hanya dari keluargaku.

Jadi kalau aku harus menjadi tokoh antagonis atau penjahat di cerita seseorang supaya aku bisa tetap menjadi manusia utuh di ceritaku sendiri, mungkin untuk sementara aku sanggup. Aku masih sayang keluargaku. Itu tidak berubah. Aku masih berterima kasih. Itu juga tidak berubah. Aku masih bisa mengakui kalau aku salah. Aku akan tetap meminta maaf ketika memang perlu. Tapi aku tidak mau kembali hanya karena rasa bersalah. Aku tidak mau menganggap batas sebagai kejahatan. Aku tidak mau memaksa diriku berdamai hanya karena orang lain tidak tahan melihat hubunganku retak.

Aku ingin ada kemungkinan bahwa suatu hari nanti kami bisa bertemu tanpa saling melukai. Tapi kalau kemungkinan itu membutuhkan jarak sekarang, maka aku akan mengambil jarak. Kalau harus retak, maka retaklah. Bukan atas nama kebencian, tapi justru cinta. Aku sudah mengalah berkali-kali. Aku nggak bisa ngalah lagi, aku ngalih.

Kali ini, aku ingin percaya bahwa ngalih bukan berarti kalah. Mungkin ini cuma caraku bertahan hidup tanpa harus menjadi orang lain. Langkah pertama selalu yang terberat; dan sepertinya ini pertama kalinya aku benar-benar memilih diriku sendiri.

Tuesday, 4 June 2024

ada kesedihan ini

ada kesedihan ini, yang mengebor lubang di hatiku. besar dan dalam, ia tak dapat ditambal oleh apapun.

Tuesday, 28 May 2024

The Test: To Hold On To Your Faith, Basically

This is my first time writing a reflection (that serves as a reminder for me too) with the basis of Al-Quran and Hadith. So, as a non-religious person, I plead to anyone who read this to remind and correct me if I made any mistake in quoting an ayah (verse), translating it, or interpreting it. Bismillahirrahmanirrahim.

Sunday, 12 May 2024

rebirth: detachment

of what worth is this dunya, when you have to let go of everything?

nothing.
it's worth nothing.

Friday, 26 April 2024

pesan tengah malam

di malam-malam itu,
ada yang memanggil-manggil khawatir,
ada yang bisu menelan getir.
tapi cinta tak hanya bisa diungkapkan dengan kata,
ia bisa berupa harapan,
asa.
juga doa yang dimohonkan pada sang maha esa.
saat menyembah, saat menghamba.
saat pikir berkelana dan kalbu gundah gulana.

Wednesday, 21 February 2024

Book Reflection: "As Long As the Lemon Trees Grow" by Zoulfa Katouh

This novel is one of those novel that is hard to read. It makes my heart heavy. The story is set in 2011-2012 Syrian Civil War, where Salama is one of the survivor of the cruel dictatorship.

Tuesday, 21 November 2023

a reflection on current humanity

i spent this month crying everyday. i know i cry from time to time, but lately it’s almost like i don’t skip a dose of my daily surprise crying session.

Friday, 19 May 2023

Arti Nama

"gy ap4h"
"lg ngerjain kasus niech"
"kasus paan sie"
"kasus klien lah. duh urusan personal blm kelar udh ngurusin idup orang ya. tp lbh gmpg ngurus idup orang e hhe"
"km mang terlahir ntuk itu"
"terlahir utk apa"
"menolong rang orang laen. km kan dewi jangan lupa"

Saturday, 29 April 2023

Selamat Hari Raya Idul Fitri.

https://vt.tiktok.com/ZS8TjKd5P/

Tadi pagi, video di atas lewat di beranda Tiktok-ku. Nonton videonya aja udah bikin tersentuh, tapi baca komennya bikin makin terenyuh karena ternyata banyak orang yang ngerasa dihargai dan diperhatiin lewat video ini.

Monday, 16 January 2023

Sedikit Cerita tentang Bersyukur

"Ya Allah, ternyata aku orang yang sangat disayang..." pikirku di pertengahan hari ini, yang mendorong jari-jariku untuk mengetik belasan hal baik mulai beberapa waktu lalu ke dalam catatan di HP.